Langsung ke konten utama

Dhammapada syair 1


Manopubbagamā dhammā
Manoseṭṭhā manomayā
Manasā ce paduṭṭhena
Bhāsatī vā karoti vā
Tato naṁ dukkhanveti
Cakkaṁ va vahato padaṁ

Pikran adalah pelopor dari segala sesuatu; pikiran adalah pemimpin, pikiran adalah pembentuk. Bila seseorang berbicara atau berbuat dengan pikiran jahat, maka penderitaan akan mengikutinya. Bagaikan roda pedati mengikuti langkah kaki lembu yang menariknya. (Dhp. Yamaka Vagga, syair 1)

Arti Kata

Manopubbagamā      : mano (pikiran) + pubbaṁ (dahului) + gamā (setelah pergi)
Dhammā                     : yang dialami
Manoseṭṭhā               : seṭṭhā (terbaik/terunggul)
Manomayā                 : mayā (diciptakan)
Manasā                       : dengan/oleh pikiran
ce                                : jika
paduṭṭhena                : dengan/oleh (buruk,rusak)
Bhāsatī                        : berbicara, berkata
                               : atau
karoti                          : (ia) berbuat, bertindak
Tato                            : maka, akibatnya, karena itu, karenanya, daripada itu
naṁ                             : ia, nya
dukkhaṁ                    : penderitaan
anveti                         : (ia) mengikuti
Cakkaṁ                       : roda
va                                : laksana, bagaikan
vahato                        : membawa, menghela
padaṁ                        : kaki, jejak, keadaan


Kisah latar

Suatu hari, Bhikkhu Cakkhupāla berkunjung ke Vihāra jetavana untuk melakukan penghoormatan kepada Buddha. Malamnya, saat melakukan meditasi jalan, tanpa sengaja ia menginjak banyak serangga. Keesokan harinya, serombongan bhikkhu bermaksud mengunjunginya. Nmaun di dekat tempat Bhikkhu Cakkhupāla menginap, mereka melihat banyak serangga mati.
Para bhikkhu itu ramai-ramai mengadukan hal ini kepada Buddha. Namun Buddha menyatakan bahwa Bhikkhu Cakkkhupāla tidak melihat serangga-serangga itu karena matanya buta. Selain itu, Bhikkhu Cakkhupāla juga telah mencapai kesucian Arahatta, sehingga tidak mungkin ia sengaja membunuh serangga-serangga itu.
Buddha kemudian menuturkan bahwa pada kehidupan yang lampau, Bhikkhu Cakkhupāla pernah menjadi tabib. Salah satu pasiennya, seorang wanita, berhasil ia sembuhkan penyakit matanya. Si wanita membohongi sang tabib karena hendak berkelit dari janji yang telah dibuatnya kepada sang tabib jika ia berhasil menyembuhkan sakit matanya. Karena marah, sang tabib akhirnya memberikan obat lagi yang akhirnya membutakan mata wanita itu.


Referensi :
Widjaja, Hendra. 2013. Dhammapada Syair Kebenaran. Jakarta: Ehipassiko Foundation

Komentar